jalanku
Jalan ku
Hampir dua
tahun ini, kutenteng dan kubungkus rapi kertas harapan yang saya perjuangkan
selama empat tahun terakhir. Lulusan sarjana pendidikan islam yang tertera
jelas di kertas itu selalu kusodorkan kesana-sini berharap ada yang mau
menerima. Benar, dua tahun ini aku selalu mencari pekerjaan bukan hanya di
lembaga pendidikan saja, melainkan kesetiap ujung kota. Selama itu pula rasa
kecewa, hancur, dan pupus harapan selalu ternyiyir tatkala satpam, resepsionis,
HRD ataupun pemilik perusahaan bersuara “Maaf, anda belum masuk kriteria kami”.
Sejenak, ku bersender di lampu jalan
taman kota untuk memikirkan apa yang kurang dalam perjuanganku selama ini. Adakah
keganjilan atau ketidak-halalan dalam perjuanganku sehinggu terasa begitu sulit
mencari pekerjaan walaupun menenteng ijazah S1. Terlintas di benak “apakah ini
keadilan-MU?” tatkala orang kaya membuang seenaknya sisa makanan dan
gelandangan memungut dengan berebut.
Langit mendung mulai meneteskan
rintik-rintik harapan makhluk di bumi. Sekejap kuteringan “rama, biungku” di rumah
apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini. Bagaimana kabar mereka. Hujan ini
dan setelah semua ini semakin menambah rasa rindu ini/ tak sabar rasanya untuk
memberitakan kepada mereka bahwa anakmu ini sudah di terima di perusahan
tersohor.
Lamunanku terhenti saat hujan mulai menyambar tubuh ini,
kontan ku berteduh di eperan counter yang sudah tutup. Terlihat di rolling door
tertera “di sewakan”. Saat menunggu hujan reda lewatlah pengamen kecil bertubuh
basah dan dekil dan di tangannya terlihat “kecrekan” dari botol sprite yang di
ratakan, dengan baju oblong abu-abu sampai lutut. Terlihat robekan-robekan
kecil di sana-sini seolah-olah berbicara betapa aku tidak mampu untuk punya
baju lain selain baju ini. Dengan semangat ia menghitung pundi-pundi rupiah
tanpa peduli dengan keberadaanku.
Terlintas di benakku, bahkan anak seperti itu sudah bisa
mendapatkan penghasilan walaupun tidaklah seberapa. Pemikiran seperti itulah
yang sering menghantui psikology ini. Hati ini seolah merengek pada nasib ini.
Kuambil hanphone butut dan terlihatlah bahwa jam sudah
menunjukan pukul 16.00 WIB sedangkan hujan belum kunjung reda. Perut ini sudah
tak bias lagi menahan apa yang harus ia terima di siang dan sore ini. Kulihat
di angkringan terdapat bapak-bapak tukang becang yang dengan asyiknya bercerita
dan di temani segelas kopi hitam panas dan sebatang rokok yang mereka hisap
secara nikmat sekali, karena memang di cuaca hujan ini paling niikmat seperti
itu.
Kurogoh saku berharap ada receh di sana dan yang ku temukan
hanyalah uang 5.000 rupiah yang 3.000 untuk transport pulang dan yang tersisa
hanyalah 2.000 untuk makan sampai nanti malam. Sekali lagi ingin ku menangis
merengek-rengek tentang nasib ini.
Hidup memang bukan untuk mengeluh, tapi apa jadinya jika
seperti ini terus dan sampai kapan ini berakhir. Sesuatu yang kuyakini dan yang
selalu menjadi pegangan hidup ini dan pula menjadi pelipur diri ini adalah
“hasil takkan pernah menghianati usaha’. Menurutku hidup itu bagaikan saat kita
berada di jalan. Semakin cepat kita memacu motor maka semakin banyak saingan
dan rintangan. Terkadang bis, tronton,
atau bahkan sesama motor harus kita lalui agar sampai tujuan. Tatkala kita
menyalip bis atau tronton tentunya kita harus bersabar dan menunngu saat yang
tepat untuk menyalipnya. Berbeda dengan menyalip motor, tak perlu lama kita
menunggu moment yang pas untuk menyalip. Semakin cepat, semakin banyak makaSemakin cepat pula kita sampai tujuan. Itu
yang selalu memotori jiwa ini yang mulai rapuh.
Dan mungkin yang sedang ku alami ini adalah saat aku harus
menyalip tronton. Harus bersabar dan jangan pernah menyerah karena timming
untuk menyalip pastilah ada.
Hujan mulailah reda dan kulangkahkan kaki ini menuju masjid
terdekat untuk memuja sang Kholik. Aku berdoa se-khusukmungkin berharap agar
segera di bukakan pintu riski untukku. Ku berdoa, berdzikir, dan bertadarus
sampai adzan maghrib. Saat menunggu adzan isya aku iseng-iseng buka handpone
sekedar iseng membaca pesan terdahulu. Semakin kumembaca semakin pahit hati
ini. Banyak pesan yang menanyakan kabar bahkan meledek “sekarang sudah sukses
jadi lupa sama yang di kampung” ada lagi “kamu beliin batik jogja kek, itung-itung
syukuran buat gajimu yang gede” dan salah satu pesan yang mengena dan menyayat
hati adalah “ziz, tolonglah bawa ini ponakanmu kerja di jogja sama kamu,
daripada di rumah ngga ngapa-ngapain”. Mendadak pesan baru masuk dan tak sempat
di buka batrai habis dan dalam hati ini sesumbar “this is the fuck ing moument
!”
Perasaan ku tatkala itu melayang laying bak layangan yang
putus tak bertuan “andai aku tidak ngotot kuliah dan uangnya bisa buat modal
usaha” atau “andai aku tidak memilih kuliah di jogja”. Juga ingatan tentang
teman yang mengajakku untuk bekerja sampingan, namun kutolak karena aku ingin
konsentrasi kuliah sehingga dapat IP yang tinggi dan mudah mendapat pekerjaan.
Namun pengalaman itulah yang seringkali di ajukan oleh sang pewawancara.
Selesai sholat isya kulangkahkan kaki untuk mencari bus untuk
mengantarku sampai gang komplekk tempat kosku berdiri. Setiba di kos aku
langsung merebus mie instant karena uang 2.000 itu hanya sanggup untuk membeli
mie instant. “gimana ziz ? udah dapet belum ?” Tanya temenku andra. “dari mukanya bisa di indikasika hanyalah penolakan
yang aziz terima dari satpam ya ?! Haha !” cletuk usman. “ya seperti inilah,
andai aku bisa request aku pingin jadi anak kecil lagi jadi bisa ngreset hidup
ini. Haha!” jawabku menghibur diri. Ya
mereeka adalah temen seperjuanganku dalam mencari pekerjaan.
Kita membicarakan tentang apa itu hidup, hidupku, hidupmu
bahkan hidup mereka. Serta idealism yang masih kita pegang sampai hari ini.
Tidsak lupa juga , sekitar info lowongan kerja . aku mengantongi beberapa nama
perusahaan yang sekiranya mereka membutuhkanku.
“masih ada harapan, jangan khawatir” aku mulai terlelap. Dan
teringat bahwa tadi ada sms baru dan belum sempat kubuka. Dengan sigap langsung
ku ambil handphone dan ternyata pesan dari anto teman di kampung. “nak, jika
memang susah cari kerja di jogja, pulanglah. Biunge sama ramane sudah tua jadi
pulanglah dan rawatlah kebun di desa” “ziz, biungmu tadi suruh aku nulis gitu”
jawab anto dalam pesan tersebut.
Sontak airmata dengan deras membasahi pipi ini dan aku
bergumam “tenang saja mak, anakmu ini pasti akan sukses, bagaimanapun caranya”.
Tak lama aku terlelap.
Setengah tiga aku biasa bangun pagi untuk sholat tahajud
berharap Allah segera mengabulkan doa ku. Aku sholat dan berdoa sekhusuk
mungkin dan dalam doa tersebut kuteteskan airmata dan tiada hentinya karena
mengingat pesan dari orangtua di kampun. Betapa perih hati ini bahkan di usia
ini aku belum bisa meringankan beban orang tuaku sedikitpun.
Pukul 08.00 aku sudah berpakaian rapi dengan baju putih
berlangan panjang serta celana hitam bersih tak lupa rambut yang di tata rapi
sehingga terkesan bahwa saya layak kerja di perusahaan yang nanti akan saya
kunjungi.tatkala mengecek berkas yang ada di tas, betapa kagetnya bahwa ternyata
ijazah S1 saya entah pergi di mana. Dengan tergesa-gesa aku berusaha mengingat
dimana terakhir aku meletakan tas dan ijazah dan ternyata di masjid. Secepat
mungkin aku menuju masjid. Sesampai disana, aku mencari kesetiap sudut masjid
dan ternyata tiding kunjung ketemu.
Hati ini terasa lumpuh, mata ini terasa rabun, kulis ini
terasa panas, dan jiwa ini seolah rontok. Kertas yang selama ini saya banggakan
hilang begitu saja. Ingi ku menangis sekencang-kencangnya.
Kulangkahkan kaki ini menuju kos, saat itu pula seorang
ta’mir masjid bertanya “nyari ijazah nak?” dengan semangat baru aku menjawab
“nggih pak’’. “ini, kemarin hamper basah kena hujan jadi saya pindahkan
kedalam” “ALHAMDULILLAH !. Nuwun saget nggih pak”. Hati ini terasa nyaman dan tak henti-hentinya
aku mengucapkan Alhamdulillah.
Sesampai di perusahaan saya dengan semangat baru dan harapan
baru melamar sebagai manager di salah satu cabang perusahaan Indomar*t. setelah
sekian banyak tes dan intervie saya akhirnya di persilahkan pulang dan di
harapkan menunggu informasi selanjutnya lewat pesan singkat.
Setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik aku
selalu bedoa dan bedoa berharap agar di terima sebagai manager di perusahaan
tersebut. setelah tiga bulan penantian akhirnya pesan singkat yang paling saya
nantikan akhirnya muncul di laya hp butut ini.
Perlahan, dengan hati penuh harap, detak jantung yang semakin
mengencang aku membuka pesan tersebut dan hasilnya aku di erima semagai Manager
Training di PT. Indomar*t. aku berjingkrak dan sontak berkata “Alhamdulillah Ya
Allah Terimakasih” . dengan bahagia saya menghubungi rama dan biungku di
kampung bahwa saya sudah di terima dan mendapat pekerjaan “Biunge, Ramane
makasih ya doanya, sekarang anakmu ini udah dapet pekerjaan sebagai Manager di
Indomar*t. pokoknya besok kalau aku udah kerja biung sama rama ga usah ke
ladang besok nyari orang aja yang buat keladang biar aku yang bayarin,
InsyaAllah aku janji !”
Note : rama (bapak) Biung (ibu)
Written by : Fajar Al Aziz
Pai IV A
15115558
Komentar
Posting Komentar